Kisah ini merupakan ( true strory) pengalaman pribadi penulis. Kesamaan nama tokoh (tapi sepertinya dalam kisah ini penulis tidak menyebutkan satu nama tokoh-pun hehhehe), tempat dan peristiwa mungkin bukanlah kebetulan belaka, karena penulis yakin di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua terjadi untuk suatu alasan dan merupakan kehendak sang langit. Seperti halnya kisah ini
Surabaya, 12 Agustus 2016
Setelah selama beberapa hari mencicipi terik dan gairah kota pahlawan,
tibalah saatnya untuk beranjak menuju pesimpangan selanjutnya. Jakarta!!
Ibu kota yang kata orang lebih kejam dari Ibu tiri. Aku telah memesan
tiket kereta sejak sehari lalu. Ini akan menjadi pengalaman pertamaku menggunakan moda transportasi kereta,
aku selalu mendamba perjalanan jauh dengan kereta, menikmati obrolan -
obrolan ringan dengan sahabat, mendengar pengalaman teman baru yang kau
temui dalam perjalananmu, menghabiskan waktu dengan membaca buku If
Only They Could Talk milik James Herriot di sepanjang malam yang gelap dan dingin.
Pikirku perjalanan ini akan se-menyenangkan itu.
Sebelumnya aku telah melakukan research tips memlih seat dalam kereta ekonomi, aku hapal betul seat mana yang harus kupilih. Hal itu kulakukan karena aku ingin sebisa mungkin mendapat letak seat
yang strategis dan sedikit lebih nyaman, walaupun kalian pasti tau
senyaman - nyamannya kelas ekonomi, saraf - saraf leher dan tulang
belakang kalian pasti akan menangis juga dan bagian anggota gerak kalian
mulai kehilangan kepekaan terhadap rangsangan karena peredaran darah
yang tak lancar, apalagi untuk kereta jarak jauh tentu bisa kalian
bayangkan. Jadi aku melakukan persiapan yang matang untuk itu.
Namun, tak kusangka banyak pula orang yang bepergian ke Jakarta dengan
kereta hingga saat aku memesan tiket kereta hanya tersisa beberapa seat. Gerbong 1- 10 merupakan gerbong yang telah full booked. Saat aku melihat seat yang tersisa di gerbong - gerbong selain itu aku akhirnya memilih seat 22D di gerbong 13, ku pilih seat itu karena itu seat untuk dua orang yang berhadapan dengan tiga orang. Itu salah satu seat yang direkomendasikan oleh travel blogger yang aku browsing beberapa waktu lalu, ternyata aku kebagian juga, hehehehehe. Duduk di seat ini membuatmu dapat menjulurkan kakimu ke samping karena tidak terhalang oleh keberadaan seseorang ( mudah-mudahan dapat kau bayangkan bagaimana letak dan rupanya, karena aku tak dapat menggambarkannya lebih jelas lagi).
2 jam dari waktu aku akan diantarkan oleh kawanku ke stasiun aku mandi dan bersiap - siap (bagian ini memang tidak penting, tapi akan tetap kusisipkan karena bagian ini menggambarkan bagaimana perjuangan kawanku ini untuk mencari tahu dimana letak Stasiun Pasar Turi itu)
dari balik pintu kamar mandi aku mendengar dengan jelas bagaimana
temanku berteriak dengan lawan bicaranya di telpon untuk meminta
kejelasan. "Kalo mau ke Pasar Turi Lewat mana? trus.. dari Tunjungan Plaza masih lurus trus?ntar di traffic light tetep lurus atau belok mana? dari monumen tugu pahlawan kiri atau kanan?" kurang lebih seperti itulah pembicaraanya. Bagi yang ingin bertanya kenapa tak cari lewat GPS atau maps dan browsing,
mohon maaf waktu itu koneksi internet sedang ngadat dan kuota
menipis.Beribu terimakasih kuucapkan untuk kawanku itu, telah kau
habiskan banyak pulsa, tenaga, pikiran serta bahan bakar untuk-ku.
Akhirnya tibalah kami di Stasiun Pasar Turi. selepas mencetak tiket di
mesin cetak mandiri, aku dan kawanku masih sempat berbicara. Betapa
inginnya Ia menemaniku ke Jakarta, aku melihat raut wajah yang khawatir
akan keberangkatanku yang seorang diri ke kota besar. Tapi kuyakinkan Ia
bahwa semua akan baik - baik saja dan aku akan melewati perjalanan ini
dengan luar biasa. Akhirnya aku pun mulai memasuki peron untuk
melakukan check-in, setelah berpamitan ke kawanku. Selama
menunggu keberangkatan aku mengabarkan ayahku di Bali bahwa sebentar
lagi aku akan berangkat ke Jakarta dengan kereta bersama temanku (maafkan diriku ayah, aku telah melakukan kebohongan kulakukan itu agar kau tak mengkhawatirkanku).
Dan tak berapa lama si ular besi pun datang, aku sedikit takjub dengan kereta api, melihatnya dan bisa merasakannya untuk pertama kali mengingatkanku akan sinetron jaman dulu favoritku dan Ibu yang dibintangi Krisna Mukti dan Cornelia Agatha (Aku Ingin Pulang) apalagi soundtrack lagu itu yang dinyanyikan Ebiet G. Ade membuat suasana menjadi sendu. Untuk memasuki kereta, aku harus berjalan lagi karena gerbong 13 berada agak belakang dari rangkaian kereta. Memasuki gerbong hanya ada diriku, mudah bagiku untuk menemukan seat 22D karena tips yang informatif menyarankan untuk memasuki pintu gerbong dari belakang untuk nomor seat 20 ke atas. Aku cukup puas dengan seat itu. 10 menit kemudian mulai bermunculan orang memasuki kereta satu - persatu sambil memegangi tiket kereta dan memastikan nomor seat yang tertera di tempat duduk kereta sama dengan yang tertera pada tiket. Beberapa dari mereka tampak sedikit iri dengan seat ku (hehehehhe mungkin ini hanya perasaanku saja).
Tak berapa lama kursi di sebelah dan di depanku mulai terisi. Di
sebelahku duduk seorang bapak perokok aktif yang lebih sering
menghabiskan waktunya di area penghubung gerbong (mohon maaf aku lupa istilahnya) untuk menghisap batang demi batang rokok sampoerna yang menyembul dari kantong kaos putihnya (letak area seat kami memang paling belakang sehingga kami dapat melihat area penghubung gerbong).
Di depanku duduk dua orang pria yang jika dilihat dari wajahnya dapat
kuperkirakan mereka berusia 22 - 25 tahun, mereka adalah anggota pramuka
yang diundang ke Istana Presiden untuk mengikuti upacara bendera hari
kemerdekaan di seat seberang dipenuhi pula oleh rombongan kakak -
kakak pramuka ini. Aku sedikit canggung harus berhadapan dengan pria -
pria yang belum ku kenal, aku memberanikan diri untuk berucap sepatah
dua patah kata berbasa - basi sebagai Ice breaking dan mereka sungguh sangat ramah,humoris dan ramai.
Salah satu hal aneh yang kubayangkan sebelum aku memutuskan menggunakan
kereta adalah bahwa nantinya aku akan bertemu jodohku di kereta, dia
duduk di hadapanku dan kami akan menghabiskan sepanjang waktu untuk
berbicara tentang semua hal, awalnya kupikir salah satu anggota pramuka
di depan cukup menarik, tapi setelah melakukan obrolan - obrolan ringan aku rasa mereka akan jadi teman yang baik hehehehhe. Beberapa menit lagi
kereta akan berangkat tapi masih banyak penumpang yang baru memasuki
kereta dan kebingungan mencari seat mereka.
Dari kejauhan, di belakang beberapa orang yang berdiri untuk mencari
tempat duduk mereka. Muncul sesosok pria yang juga terlihat sedikit
kebingungan untuk menemukan seat-nya. Dalam hati aku berdoa "ya tuhan pria yang seperti itu yang aku bayangkan sebelum aku naik kereta, akan lucu sekali kalau Ia duduk di depanku" setelah sempat melewati seat-ku, pria itu kembali dan menghampiri seat kami
dan tanpa basa-basi Ia berkata, "mas saya duduk di situ" sambil menunjuk
seat 21A. Seketika angin berhembus dibelakang leherku. Ini benar - benar
lucu, pikirku. Sempat terjadi perdebatan kecil antara pria tanpa basa -
basi itu dengan kakak anggota pramuka (mereka rebutan tempat duduk dekat jendela) ternyata menurut nomor seat, Si pria dingin (selanjutnya akan kusebut demikian karena sikap dinginya dan sampai sekarang tak kuketahui namanya) inilah yang duduk di dekat jendela dan dia tidak duduk tepat di depanku, tetapi di depan bapak perokok aktif.
Jika bisa kugambarkan pria dingin ini sungguh rupawan, dari cara Ia berpakaian tampaknya ia paham sekali mengenai fashion. Ia terlihat rapi dengan kemeja putih dibalut rompi biru navy
menggendong tas hitam di lengan kanan bagai penampilan sekolah para
siswa di jepang. Wajahnya yang serius dan dingin seperti sedang dibebani
masalah pekerjaan, Ia persis seperti ekspatriat muda yang
berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk mengais rejeki, seolah -
olah itu adalah kali pertama ia di kelas ekonomi. Jika boleh ku
analogikan wajah dan tatapan serta sikapnya yang dingin merupakan
perpaduan antara Nicholas Saputra dan artis FTV serta sinetron remaja (lupa namanya, tapi inget wajahnya).
Awalnya aku senang pria itu duduk dalam satu area denganku, dalam
bayanganku aku akan mengobrol dengan kembaran Nicholas Saputra. Tapi,
kenyataannya tidak seperti itu.
Entah kenapa suasana menjadi kaku, tidak ada suara dari area duduk kami
(21 dan 22) yang ada hanya keseruan di area sebelah yang dipenuhi kakak -
kakak pramuka. Dua anggota pramuka yang duduk di depanku juga lebih
banyak berinteraksi dengan teman - temannya di seberang. Sementara bapak
perokok di sebelahku lebih sering ke luar untuk merokok. Hanya aku dan
pria dingin itu saja yang terdiam. Tak berselang lama anggota pramuka
yang duduk di tengah terlihat tidak nyaman hingga akhirnya ia memutuskan
pindah ke seat seberang tempat teman - temannya bergumul.
Sekarang hanya ada 4 orang di satu area. Tapi anggota pramuka yang
tersisa menjadi sedikit canggung karena ia menjadi satu - satunya
anggota pramuka yang ada di area itu. Tidak ada orang yang mengajakku
berbicara. Aku ingin tidur tapi tidak bisa, jadi untuk mengurangi
ke-kakuan aku memejamkan mataku berpura - pura tidur tapi tak berselang
lama aku bangun lagi. ku-ulangi hal serupa selama beberapa kali karna
aku tak tahu apa yang harus kulakukan.
Setelah beberapa kali keluar masuk, bapak perokok aktif di
sebelahku akhirnya menyuruhku untuk menukar tempat duduk agar tidak
mengganggu aku jika nanti Ia akan keluar atau masuk. Aku mengiyakan
walaupun sedikit berat hati, akhirnya kini aku duduk tepat di hadapan
pria dingin yang tidak mengeluarkan sepatah katapun itu. Aku merasa aku
akan mati di telan sepi selama 11 jam perjalanan ini. Aku kembali
berpura - pura tidur, tapi di satu sisi aku memikirkan citraku. Jika aku
harus tertidur setidaknya aku harus tidur dengan cantik dan anggun di
hadapan pria dingin ini, aku memposisikan diriku sedemikian rupa
sehingga aku bisa tidur cantik dengan sedikit senyuman kecil menyimpul
di wajahku, dalam bayanganku, aku pasti sangat cantik saat itu. Tak
beberapa lama aku terbangun dari tidur palsuku, berpura - pura terkaget
akan sesuatu tapi ternyata pria di depanku juga tertidur pulas, huh
ternyata Ia tidak melihat aura kecantikan yang keluar saat aku tidur.
Aku pun kembali mencoba untuk menutup mataku tapi tetap tidak bisa
tidur. seringkali karena guncangan kereta kakiku dan kaki pria dingin ini
bersentuhan, ini juga dipengaruhi space kaki yang sempit di
kereta sehingga semua kaki jadi bersentuh- sentuhan. Hanya saja aku
sebisa mungking menahan kakiku ke belakang agar kaki si pria dingin itu
lebih nyaman (aku berpikir hal ini menjadi salah satu alasan juga kenapa
bapak perokok aktif ingin pindah seat, itu pastinya karna kaki mereka
berdua yang sama - sama panjang sehingga menyulitkan mereka untuk
membagi space, hahahhaha). Saat kaki kami bersentuhan degup
jantungku seperti berlarian, cepat sekali. Aku berharap pria dingin itu
ada inisiatif untuk memundurkan sedikit kakinya agar kami tidak
bersentuhan lagi, tapi tidak ada tanda - tanda gerakan darinya, saat
kubuka mataku ternyata Ia masih tertidur, huh jadi akulah yang menggeser
kakiku.
Bapak perokok aktif di sebelahku cukup lama tidak kembali ke tempat,
sampai akhirnya satu anggota pramuka tersisa di hadapanku bertanya " Mba, suaminya mana? tempat ini kosong?" Aku kaget setengah mati ketika kakak pramuka itu menyangka bapak perokok aktif itu suamiku. "Maaf mas maksud mas bapak yang duduk sebelah saya?" aku meyakinkan. "Iya, mba" jawab kakak pramuka itu. "Itu bukan suami saya mas, saya baru ketemu di kereta" aku menjawab dengan wajah sedikit kesal dan senyum yang dipaksakan. "Oh maaf mba, saya kira mba sama bapaknya tadi".
( Gilee lu emangnya muka gue tua banget yak). Aku cuman bisa tertawa
tak lepas. Tak lama salah satu anggota pramuka perempuan datang dan
duduk di sebelahku, aku sedikit senang karna aku pikir aku akan bisa
bercerita dengan mba di sebelah. "Mba nanti kalo yang duduk di sini dateng saya pindah mba",
ucap mba pramuka itu, aku bilang ya mba gapapa. Tapi tetap saja mba di
sebelah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur. Saat itu di area
kami semua orang tidur dan bapak perokok aktif tak kunjung datang. Aku
pikir ia telah turun di stasiun sebelumnya, namun barang - barangnya
masih ada. Entahlahh...
Saat semuanya tertidur, aku pun mulai ikut mengantuk dan aku mulai
tertidur, kali ini adalah tidur yang benar - benar pulas. Aku merasa
tanpa sadar muluktu terbuka perlahan - lahan. Itu bagaikan mimpi dan
nyata, waktu berlalu dan aku terbangun karena aku mendengar suara orang
tertawa. Saat aku membuka mata aku melihat pria dingin yang duduk tepat di
depanku sedang tertawa dan tersenyum - senyum melihatku yang tidur
dengan mulut terbuka. Aku langsung terbelalak dan menunduk malu, tadi
aku tidur pasti mulutku kebuka, mungkin aku ileran tadi, pikiran -
pikiran negatif menyeruak ke otakku. Gagal sudah untuk terlihat cantik
saat tidur. Ku putuskan untuk langsung ke toilet, memeriksa dan mengira -
ngira seperti apakah wajahku saat tidur tadi. Ku lihat di cermin, kira -
kira aku tidur seperti ini, mulut sedikit terbuka dan rambut
berantakan, Siall.. itu jelek sekali. Setelah cukup lama
merenung di toilet kuputuskan untuk kembali. Aku menyisir rambutku,
mencuci wajahku, dan menyemprotkan parfum ke bajuku. Kali ini aku tidak
boleh tertidur, aku akan tertawa juga nanti saat pria dingin itu
tertidur dan membuka mulutnya, gumamku.
Setelah kembali, ku lihat pria dingin itu sedang asik bermain bersama
ponselnya. Berjam - jam berlalu kami tetap tidak saling menyapa atau
mengucap kata. Sebenernya aku sangat ingin memulai obrolan tetapi, aku
tak berani karena pria itu sangat dingin sedingin es di kutub utara (walau aku belum pernah ke kutub utara, tapi aku tau betul disana pastilah sangat dingin). Dia
hanya menghabiskan waktunya untuk tidur atau bermain ponsel. Sama sekali
tak bicara dengan kami atau orang yang duduk di sebelahnya. Aku hanya membuang muka sambil sesekali melirik ke arahnya, dan itu lumayan membuat pegal leherku. Beberapa
jam kemudian pria dingin itu kembali tidur, aku sebenarnya sangat
mengantuk tapi aku berusaha untuk tidak tidur bahkan berkedip. Aku tidak
mau kejadian memalukan yang sama terjadi lagi namun aku tidak bisa. Aku
sudah tidak tahan. akhirnya kuambil buff di dalam tasku untuk menutupi bagian mulutku, dengan ini aku bisa tidur tenang heheheheh.
Lalu aku terbangun sebentar saat mendengar orang datang. ternyata bapak
perokok aktif itu sudah kembali dari pengasingan hehehheheh, Ia ingin
mengambil hak tempat duduknya yang ditempati mba pramuka yang sedang
tertidur pulas. Mba itu dengan setengah sadar akhirnya bangun dan pindah
tempat duduk tepat di tengah antara teman pramukanya dan pria dingin
itu dan kembali tidur. Sepertinya mba itu memang setengah sadar. Sejak
saat itu aku tidak bisa tidur lagi. aku hanya menatap nanar ke depan. Kuperhatikan pria itu dengan seksama matanya, hidungnya, bibirnya Ia
benar - benar rupawan. dia tidak membuka mulutnya sama sekali atau
ileran atau melakukan hal aneh saat tidur sehingga tidak ada alasan
bagiku untuk tertawa yang ada hanya kekaguman. Aku berpikir apakah Ia
sedang berpura - pura tidur saja dan mencoba melakukan tidur tampan?
Jam demi jam berlalu aku tetap tidak bisa tidur. Satu - persatu penumpang mulai turun di stasiun - stasiun pemberhentian. Gerbong sedikit lebih sepi. Ini pukul 4 pagi, jika sesuai jadwal kereta akan tiba di jakarta pukul 9 pagi. Aku mencoba mengambil buku James herriot dalam tas tetapi aku tidak dapat berkonsentrasi. Kemudian aku mengambil sepotong roti yang aku beli di Surabaya. Aku berusaha tidak mengeluarkan bunyi agar tidak mengganggu yang lainnya. Aku makan sedikit dan tidak habis. Banyak hal yang aku pikirkan saat itu. Aku tidak sabar ingin bertemu kawanku dan bertanya - tanya kemana ia akan membawaku nanti di jakarta. Aku juga memikirkan keluargaku di Bali yang aku bohongi, aku memikirkan kawanku di Surabaya yang mengkhawatirkanku. Aku berpikir bahwa setelah jam 9, orang di hadapanku akan menghilang dari pandanganku dan perjalanan ini akan berakhir tanpa aku pernah tau nama dan mengingat suaranya yang hanya muncul saat Ia datang dan tertawa. Lalu aku menatap keluar jendela saat itu masih sangat gelap ditambah hujan yang cukup lebat menambah kegundahgulanaanku.
Jam demi jam berlalu aku tetap tidak bisa tidur. Satu - persatu penumpang mulai turun di stasiun - stasiun pemberhentian. Gerbong sedikit lebih sepi. Ini pukul 4 pagi, jika sesuai jadwal kereta akan tiba di jakarta pukul 9 pagi. Aku mencoba mengambil buku James herriot dalam tas tetapi aku tidak dapat berkonsentrasi. Kemudian aku mengambil sepotong roti yang aku beli di Surabaya. Aku berusaha tidak mengeluarkan bunyi agar tidak mengganggu yang lainnya. Aku makan sedikit dan tidak habis. Banyak hal yang aku pikirkan saat itu. Aku tidak sabar ingin bertemu kawanku dan bertanya - tanya kemana ia akan membawaku nanti di jakarta. Aku juga memikirkan keluargaku di Bali yang aku bohongi, aku memikirkan kawanku di Surabaya yang mengkhawatirkanku. Aku berpikir bahwa setelah jam 9, orang di hadapanku akan menghilang dari pandanganku dan perjalanan ini akan berakhir tanpa aku pernah tau nama dan mengingat suaranya yang hanya muncul saat Ia datang dan tertawa. Lalu aku menatap keluar jendela saat itu masih sangat gelap ditambah hujan yang cukup lebat menambah kegundahgulanaanku.
Pandanganku kosong dan jauh ke luar, tapi sejauh - jauhnya aku
melihat karena gelap dan hujan jarak pandang jadi tidak jelas, yang
terlihat hanya pantulan wajah - wajah lelah kami. Aku memperhatikan
wajah pria dingin itu di jendela. Setelah itu aku
membalik pandangan dan melihat pria dingin di depanku dan mba pramuka
yang menyandarkan kepala di bahu pria itu. Hal itu cukup lucu, karena Ia
pasti tidak sadar bahwa Ia telah bersandar di pundak pria itu dan si
pria dingin itu juga tak sadar bahwa seseorang telah menyandarkan
kepalanya di pundaknya. Aku kembali menatap ke luar jendela, aku
berfikir bahwa setidaknya sampai pukul sembilan masih ada 4 jam untuk
aku berbicara sekedar menyapa pria dingin itu. Sehingga perjalanan 11
jam ini tidak akan habis dikoyak sepi.
Saat aku mulai berpaling kembali menghadap ke depan, aku masih melihat
mba pramuka itu bersandar di pundak si pria dingin itu, tapi si pria
dingin telah terbangun dan sedang memegang ponselnya mengarah ke diriku.
Aku tidak kaget karena yang dikerjakan pria dingin itu di kereta hanya
bermain game di ponsel dan tidur. Tapi aku merasa sedikit kaget saat
kudengar suara foto yang diambil dengan ponsel saat itu, Aku berpikir
apakah pria dingin itu sedang mengambil fotoku. Sepertinya Ia menyadari
kekagetanku kemudian ia menurunkan ponselnya, sepintas lewat ku lirik
layar ponsel itu, ternyata itu suara dari gamenya huhh aku terlalu GR
hehehehehe. Setelah itu kami berdua tidak tertidur lagi. Cahaya mulai
muncul perlahan, ku pikir inilah kesempatanku untuk berbicara padanya.
tapi aku bingung bagaimana caranya. Pria dingin ini sama sekali tidak
berbicara dari kemarin apakah ia tidak percaya diri karena belum sikat
gigi (pikirku) kemudian muncul dalam benakku untuk menawarkan permen karet mint yang kubawa, ini merupakan ide yang bagus untuk memulai pembicaraan.
Akhirnya kukeluarkan permen karet dari kantong celanaku, kubuka dan
kutawarkan dia, awalnya aku sempat ragu dan berfikir pria dingin ini
pasti menolak karena dari caranya tidak mengeluarkan suara dan kata Ia
pasti tidak ingin membangun hubungan dengan orang asing, apalagi
menerima pemberian dari orang asing dia pasti sangat anti. Tapi akhirnya
kutawarkan juga, dan ajaibnya dia menerimanya namun tidak ada kata yang
keluar setelah itu bahkan ucapan terima kasih. Aku tidak terlalu
memikirkan ucapan terima kasih itu walaupun demikian aku berharap ada
pembicaraan yang terjadi setelah insiden pemberian permen itu. Tapi
tetap kami tidak berbicara dan suasana kembali sepi.
Aku menawarkan juga permen karet ke kakak pramuka yang sudah
bangun dari tidur tapi mereka semua menolak. Itu tidak masalah. Aku
hanya melihat ke luar jendela ingin memulai pembicaraan tapi ragu, aku
melewati pematang sawah yang di sinari matahari terbit yang masih malu -
malu. Itu sangat indah dan aku tidak mau melewati kesempatan untuk
mengabadikannya dalam video. Jadi aku merekamnya aku melihat pria dingin
itu juga melakukan hal yang sama, dia mengikuti apa yang kulakukan,
cukup lama kami berdua merekam pematang sawah dari jendela. Aku mencuri -
curi kesempatan untuk merekam dia juga hehehehe. Itu berhasil, aku
melakukan hal itu sehingga setelah perjalanan ini aku tidak akan dengan
mudah melupakan wajahnya walaupun aku tak tahu nama dan tak sempat
berbicara dengannya. Tapi dengan potret rupa yang aku miliki setidaknya
aku masih bisa jika harus menggambarkannya nanti dan bisa membuat cerita
tentangnya seperti ini.
Kereta akhirnya sampai di bekasi, itu bukan tujuan akhir kereta di Jakarta karena perhentian terakhir kereta adalah di Stasiun Pasar Senen. Tapi pria dingin itu sudah mulai mengambil barang - barangnya dan bersiap untuk berdiri. Ketika kereta telah sampai di Stasiun Pasar Senen namun belum benar - benar berhenti, pria itu sudah beranjak dan berjalan cepat ke arah depan dengan terburu - buru tanpa mengucapkan apa - apa. Aku hanya melihatnya berlalu dan menatap punggungnya hingga jauh dan akhirnya menghilang. Aku tertawa kecil karena aku merasa kejadian ini sangat lucu. Inilah akhir dari perjalanan 11 jam yang tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan. Aku keluar dari kereta dan menuju pintu keluar juga dengan tergesa- gesa karena aku harus membeli tiket (mengisi saldo kartu) KRL menuju Depok. Berhubung itu adalah kali pertama aku menggunakan KRL, jadi aku sedikit terburu - buru agar tidak terjebak di kerumunan orang - orang yang juga ingin mengisi kartu KRL mereka.
Kereta akhirnya sampai di bekasi, itu bukan tujuan akhir kereta di Jakarta karena perhentian terakhir kereta adalah di Stasiun Pasar Senen. Tapi pria dingin itu sudah mulai mengambil barang - barangnya dan bersiap untuk berdiri. Ketika kereta telah sampai di Stasiun Pasar Senen namun belum benar - benar berhenti, pria itu sudah beranjak dan berjalan cepat ke arah depan dengan terburu - buru tanpa mengucapkan apa - apa. Aku hanya melihatnya berlalu dan menatap punggungnya hingga jauh dan akhirnya menghilang. Aku tertawa kecil karena aku merasa kejadian ini sangat lucu. Inilah akhir dari perjalanan 11 jam yang tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan. Aku keluar dari kereta dan menuju pintu keluar juga dengan tergesa- gesa karena aku harus membeli tiket (mengisi saldo kartu) KRL menuju Depok. Berhubung itu adalah kali pertama aku menggunakan KRL, jadi aku sedikit terburu - buru agar tidak terjebak di kerumunan orang - orang yang juga ingin mengisi kartu KRL mereka.
Setelah aku mendapatkan kartu aku diam sejenak untuk mengambil air
dalam tasku. Saat itu dari kejauhan aku melihat sosok yang tak asing
bagiku, pria tinggi dengan kemeja putih ditutupi rompi biru navy
dan menggendong tas di sebelah kanan dengan wajah yang bahagia
menggendong seorang anak perempuan dengan tangan kanannya dan merangkul
seorang perempuan yang menahan tangis bahagia dengan tangan kirinya.
Mereka bertiga terlihat bahagia dan saling melepas rindu, dan kemudian
mereka berlalu. Waktu seolah - olah berjalan lambat saat itu. Aku
berpaling dan berjalan pelan memasuki stasiun menunggu kereta arah
Bogor. Aku melihat lalu lalang orang di keramaian tapi aku merasa sepi.
Aku berpikir ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa sekaligus
melelahkan.
Dalam kereta listrik menuju Depok beberapa kali aku menarik nafas
setelah didera kelelahan yang mendalam, aku melihat potret sebuah
keluarga kecil yang bahagia dalam kereta, sang ayah menjawab pertanyaan -
pertanyaan ingin tahu anaknya dengan sabar dan di sebelahnya sang ibu
mengembangkan senyum melihat kelakuan anak dan suaminya. Itu sungguh
mengagumkan. Di sisi lain para mahasiswa terlihat tertawa lepas karena
akan camping ke puncak mereka memainkan sebuah lagu dengan gitar
sampai akhirnya petugas keamanan KRL menghentikan mereka. Pemandangan ini pastinya
sulit dijumpai pada jam - jam berangkat dan pulang kantor yang dipenuhi
wajah - wajah lelah pegawai yang memenuhi KRL. Tapi pukul 10 dalam KRL membuatku dapat memperhatikan setiap ekspresi para penumpang di dalamnya dan juga mendapat
tempat duduk yang lumayan lapang.
Aku memeriksa ponselku ada beberapa panggilan tak terjawab dari ayahku.
Aku menghubunginya kembali, hal pertama yang aku ucapkan adalah maaf
karena telah membohonginya. Aku sampaikan padanya untuk tidak khawatir
karena aku telah sampai di Jakarta dan sebentar lagi akan bertemu dengan
kawanku. Stasiun demi stasiun terlewati dan perjalanan ini cukup
menguras tenaga. Aku mencoba mengosongkan pikiranku. Aku hanya berharap
dapat bertemu kawanku dan mengakhiri perjalanan ini dengan cepat. Aku
cukup lelah dan ingin membaringkan tubuh dan kakiku serta
mengistirahatkan pikiranku. Setelah beristirahat aku ingin ceritakan hal ini kepada kawanku, tetapi aku mengurungkan niatku, hari - demi hari berlalu sejak saat itu sampai akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan kisah itu dalam blog ini. Sampai sekarang aku masih mengingat betul wajah pria dalam kereta itu, hanya satu yang tidak kuingat yaitu suaranya.
Aku menceritakan hal ini, saat beberapa hari yang lalu temanku
mengajakku untuk berkereta ke Yogyakarta. Sehingga aku teringat akan
kisah yang belum sempat kutulis ini. Aku pikir jikalau rencana
berkereta ku benar - benar terlaksana, aku berharap ada kisah perjalanan
menarik lainnya yang aku alami sehingga aku bisa bercerita seperti ini
lagi.
ada
nilai yang bisa kupetik dari kisah ini, yakni
1. jangan mudah jatuh cinta pada setiap orang yang baru kau jumpai dalam sebuah perjalanan apalagi hanya karena wajahnya yang rupawan, karena kau tidak pernah tau siapa yang menunggu kepulangannya di rumah
2. GR dan Baper merupakan hal yang wajar karena itu terjadi di luar kehendak dan kuasa kita
3. Bepergian dengan kereta kelas ekonomi jarak jauh dapat membuat seluruh badanmu pegal dan saraf menjadi kaku
4. Sebelum menggunakan kereta api mari mencari tahu tips memilih seat dan informasi lebih lanjut. Jangan lupa untuk selalu menyediakan masker sebagai penutup mulut saat tidur.
5. Menyediakan permen karet mint sangat membantu mendekatkan jarak dua orang yang jauh
6. Walaupun kau sangat pemalu atau tidak cukup berani untuk memulai pembicaraan atau melakukan suatu tindakan setidaknya kau harus mencoba, supaya nyawamu tak tertinggal dalam kata 'Andai saja'
7. Terakhir jangan pernah sekali - kali membohongi ayahmu heheheheh karena akibatnya kamu akan kehilangan orang yang kau kira jodohmu dalam kereta hehehehe.
With Love,
End Triana Gayatri
1. jangan mudah jatuh cinta pada setiap orang yang baru kau jumpai dalam sebuah perjalanan apalagi hanya karena wajahnya yang rupawan, karena kau tidak pernah tau siapa yang menunggu kepulangannya di rumah
2. GR dan Baper merupakan hal yang wajar karena itu terjadi di luar kehendak dan kuasa kita
3. Bepergian dengan kereta kelas ekonomi jarak jauh dapat membuat seluruh badanmu pegal dan saraf menjadi kaku
4. Sebelum menggunakan kereta api mari mencari tahu tips memilih seat dan informasi lebih lanjut. Jangan lupa untuk selalu menyediakan masker sebagai penutup mulut saat tidur.
5. Menyediakan permen karet mint sangat membantu mendekatkan jarak dua orang yang jauh
6. Walaupun kau sangat pemalu atau tidak cukup berani untuk memulai pembicaraan atau melakukan suatu tindakan setidaknya kau harus mencoba, supaya nyawamu tak tertinggal dalam kata 'Andai saja'
7. Terakhir jangan pernah sekali - kali membohongi ayahmu heheheheh karena akibatnya kamu akan kehilangan orang yang kau kira jodohmu dalam kereta hehehehe.
With Love,
End Triana Gayatri
