The Man On the Train

November 07, 2016


       Kisah ini merupakan ( true strory) pengalaman pribadi penulis. Kesamaan nama tokoh (tapi sepertinya dalam kisah ini penulis tidak menyebutkan satu nama tokoh-pun hehhehe), tempat dan peristiwa mungkin bukanlah kebetulan belaka, karena penulis yakin di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Semua terjadi untuk suatu alasan dan merupakan kehendak sang langit. Seperti halnya kisah ini  




Surabaya, 12 Agustus 2016
 
          Setelah selama beberapa hari mencicipi terik dan gairah kota pahlawan, tibalah saatnya untuk beranjak menuju pesimpangan selanjutnya. Jakarta!! Ibu kota yang kata orang lebih kejam dari Ibu tiri. Aku telah memesan tiket kereta sejak sehari lalu. Ini akan menjadi pengalaman pertamaku menggunakan moda transportasi kereta, aku selalu mendamba perjalanan jauh dengan kereta, menikmati obrolan - obrolan ringan dengan sahabat, mendengar pengalaman teman baru yang kau temui dalam perjalananmu, menghabiskan waktu dengan  membaca buku If Only They Could Talk milik James Herriot di sepanjang malam yang gelap dan dingin. Pikirku perjalanan ini akan se-menyenangkan itu.


           Sebelumnya aku telah melakukan research tips memlih seat dalam kereta ekonomi, aku hapal betul seat mana yang harus kupilih. Hal itu kulakukan karena aku ingin sebisa mungkin mendapat letak seat yang strategis dan sedikit lebih nyaman, walaupun kalian pasti tau senyaman - nyamannya kelas ekonomi, saraf - saraf leher dan tulang belakang kalian pasti akan menangis juga dan bagian anggota gerak kalian mulai kehilangan kepekaan terhadap rangsangan karena peredaran darah yang tak lancar, apalagi untuk kereta jarak jauh tentu bisa kalian bayangkan. Jadi aku melakukan persiapan yang matang untuk itu. 


        Namun, tak kusangka banyak pula orang yang bepergian ke Jakarta dengan kereta hingga saat aku memesan tiket kereta hanya tersisa beberapa seat. Gerbong 1- 10 merupakan gerbong yang telah full booked. Saat aku melihat seat yang tersisa di gerbong - gerbong selain itu aku akhirnya memilih seat 22D di gerbong 13, ku pilih seat itu karena itu seat untuk dua orang yang berhadapan dengan tiga orang. Itu salah satu seat yang direkomendasikan oleh travel blogger yang aku browsing beberapa waktu lalu, ternyata aku kebagian juga, hehehehehe. Duduk di seat ini membuatmu dapat menjulurkan kakimu ke samping karena tidak terhalang oleh keberadaan seseorang ( mudah-mudahan dapat kau bayangkan bagaimana letak dan rupanya, karena aku tak dapat menggambarkannya lebih jelas lagi).


         2 jam dari waktu aku akan diantarkan oleh kawanku ke stasiun aku mandi dan bersiap - siap (bagian ini memang tidak penting, tapi akan tetap kusisipkan karena bagian ini menggambarkan bagaimana perjuangan kawanku ini untuk mencari tahu dimana letak Stasiun Pasar Turi itu) dari balik pintu kamar mandi aku mendengar dengan jelas bagaimana temanku berteriak dengan lawan bicaranya di telpon untuk meminta kejelasan. "Kalo mau ke Pasar Turi Lewat mana? trus.. dari Tunjungan Plaza masih lurus trus?ntar di traffic light tetep lurus atau belok mana? dari monumen tugu pahlawan kiri atau kanan?"  kurang lebih seperti itulah pembicaraanya. Bagi yang ingin bertanya kenapa tak cari lewat GPS atau maps dan browsing, mohon maaf waktu itu koneksi internet sedang ngadat dan kuota menipis.Beribu terimakasih kuucapkan untuk kawanku itu, telah kau habiskan banyak pulsa, tenaga, pikiran serta bahan bakar untuk-ku.


         Akhirnya tibalah kami di Stasiun Pasar Turi. selepas mencetak tiket di mesin cetak mandiri, aku dan kawanku masih sempat berbicara. Betapa inginnya Ia menemaniku ke Jakarta, aku melihat raut wajah yang khawatir akan keberangkatanku yang seorang diri ke kota besar. Tapi kuyakinkan Ia bahwa semua akan baik - baik saja  dan aku akan melewati perjalanan ini dengan luar biasa. Akhirnya aku pun mulai memasuki peron untuk melakukan check-in, setelah berpamitan ke kawanku. Selama menunggu keberangkatan aku mengabarkan ayahku di Bali bahwa sebentar lagi aku akan berangkat ke Jakarta dengan kereta bersama temanku (maafkan diriku ayah, aku telah melakukan kebohongan kulakukan itu agar kau tak mengkhawatirkanku)


         Dan tak berapa lama si ular besi pun datang, aku sedikit takjub dengan kereta api, melihatnya dan bisa merasakannya untuk pertama kali mengingatkanku akan sinetron jaman dulu favoritku dan Ibu yang dibintangi Krisna Mukti dan Cornelia Agatha (Aku Ingin Pulang) apalagi soundtrack lagu itu yang dinyanyikan Ebiet G. Ade membuat suasana menjadi sendu. Untuk memasuki kereta, 
aku harus berjalan lagi karena gerbong 13 berada agak belakang dari rangkaian kereta. Memasuki gerbong hanya ada diriku, mudah bagiku untuk menemukan seat 22D karena tips yang informatif menyarankan untuk memasuki pintu gerbong dari belakang untuk nomor seat 20 ke atas. Aku cukup puas dengan seat itu. 10 menit kemudian mulai bermunculan orang memasuki kereta satu - persatu sambil memegangi tiket kereta dan memastikan nomor seat yang tertera di tempat duduk kereta sama dengan yang tertera pada tiket. Beberapa dari mereka tampak sedikit iri dengan seat ku (hehehehhe mungkin ini hanya perasaanku saja).


       Tak berapa lama kursi di sebelah dan di depanku mulai terisi. Di sebelahku duduk seorang bapak perokok aktif yang lebih sering menghabiskan waktunya di area penghubung gerbong (mohon maaf aku lupa istilahnya) untuk menghisap batang demi batang rokok sampoerna  yang menyembul dari kantong kaos putihnya (letak area seat kami memang paling belakang sehingga kami dapat melihat area penghubung gerbong). Di depanku duduk dua orang pria yang jika dilihat dari wajahnya dapat kuperkirakan mereka berusia 22 - 25 tahun, mereka adalah anggota pramuka yang diundang ke Istana Presiden untuk mengikuti upacara bendera hari kemerdekaan di seat seberang dipenuhi pula oleh rombongan kakak - kakak pramuka ini. Aku sedikit canggung harus berhadapan dengan pria - pria yang belum ku kenal, aku memberanikan diri untuk berucap sepatah dua patah kata berbasa - basi sebagai Ice breaking dan mereka sungguh sangat ramah,humoris dan ramai. 


         Salah satu hal aneh yang kubayangkan sebelum aku memutuskan menggunakan kereta adalah bahwa nantinya aku akan bertemu jodohku di kereta, dia duduk di hadapanku dan kami akan menghabiskan sepanjang waktu untuk berbicara tentang semua hal, awalnya kupikir salah satu anggota pramuka di depan cukup menarik, tapi setelah melakukan obrolan - obrolan ringan aku rasa mereka akan jadi teman yang baik hehehehhe. Beberapa menit lagi kereta akan berangkat tapi masih banyak penumpang yang baru memasuki kereta dan kebingungan mencari seat mereka. 


          Dari kejauhan, di belakang beberapa orang yang berdiri untuk mencari tempat duduk mereka. Muncul sesosok pria yang juga terlihat sedikit kebingungan untuk menemukan seat-nya. Dalam hati aku berdoa "ya tuhan pria yang seperti itu yang aku bayangkan sebelum aku naik kereta, akan lucu sekali kalau Ia duduk di depanku"  setelah sempat melewati seat-ku, pria itu kembali dan menghampiri seat kami dan tanpa basa-basi Ia berkata, "mas saya duduk di situ" sambil menunjuk seat 21A. Seketika angin berhembus dibelakang leherku. Ini benar - benar lucu, pikirku. Sempat terjadi perdebatan kecil antara pria tanpa basa - basi itu dengan kakak anggota pramuka (mereka rebutan tempat duduk dekat jendela) ternyata menurut nomor seat, Si pria dingin (selanjutnya akan kusebut demikian karena sikap dinginya dan sampai sekarang tak kuketahui namanya) inilah yang duduk di dekat jendela dan dia tidak duduk tepat di depanku, tetapi di depan bapak perokok aktif. 


       Jika bisa kugambarkan pria dingin ini sungguh rupawan, dari cara Ia berpakaian tampaknya ia paham sekali mengenai fashion. Ia terlihat rapi dengan kemeja putih dibalut rompi biru navy menggendong tas hitam di lengan kanan bagai penampilan sekolah para siswa di jepang. Wajahnya yang serius dan dingin seperti sedang dibebani masalah pekerjaan, Ia persis seperti ekspatriat muda yang berpindah dari satu kota ke kota lainnya untuk mengais rejeki, seolah - olah itu adalah kali pertama ia di kelas ekonomi. Jika boleh ku analogikan wajah dan tatapan serta sikapnya yang dingin merupakan perpaduan antara Nicholas Saputra dan artis FTV serta sinetron remaja (lupa namanya, tapi inget wajahnya). Awalnya aku senang pria itu duduk dalam satu area denganku, dalam bayanganku aku akan mengobrol dengan kembaran Nicholas Saputra. Tapi, kenyataannya tidak seperti itu. 


           Entah kenapa suasana menjadi kaku, tidak ada suara dari area duduk kami (21 dan 22) yang ada hanya keseruan di area sebelah yang dipenuhi kakak - kakak pramuka. Dua anggota pramuka yang duduk di depanku juga lebih banyak berinteraksi dengan teman - temannya di seberang. Sementara bapak perokok di sebelahku lebih sering ke luar untuk merokok. Hanya aku dan pria dingin itu saja yang terdiam. Tak berselang lama anggota pramuka yang duduk di tengah terlihat tidak nyaman hingga akhirnya ia memutuskan pindah ke seat seberang tempat teman - temannya bergumul. Sekarang hanya ada 4 orang di satu area. Tapi anggota pramuka yang tersisa menjadi sedikit canggung karena ia menjadi satu - satunya anggota pramuka yang ada di area itu. Tidak ada orang yang mengajakku berbicara. Aku ingin tidur tapi tidak bisa, jadi untuk mengurangi ke-kakuan aku memejamkan mataku berpura - pura tidur tapi tak berselang lama aku bangun lagi. ku-ulangi hal serupa selama beberapa kali karna aku tak tahu apa yang harus kulakukan.

 
            Setelah beberapa kali keluar masuk, bapak perokok aktif di sebelahku akhirnya menyuruhku untuk menukar tempat duduk agar tidak mengganggu aku jika nanti Ia akan keluar atau masuk. Aku mengiyakan walaupun sedikit berat hati, akhirnya kini aku duduk tepat di hadapan pria dingin yang tidak mengeluarkan sepatah katapun itu. Aku merasa aku akan mati di telan sepi selama 11 jam perjalanan ini. Aku kembali berpura - pura tidur, tapi di satu sisi aku memikirkan citraku. Jika aku harus tertidur setidaknya aku harus tidur dengan cantik dan anggun di hadapan pria dingin ini, aku memposisikan diriku sedemikian rupa sehingga aku bisa tidur cantik dengan sedikit senyuman kecil menyimpul di wajahku, dalam bayanganku, aku pasti sangat cantik saat itu. Tak  beberapa lama aku terbangun dari tidur palsuku, berpura - pura terkaget akan sesuatu tapi ternyata pria di depanku juga tertidur pulas, huh ternyata Ia tidak melihat aura kecantikan yang keluar saat aku tidur. 


          Aku pun kembali mencoba untuk menutup mataku tapi tetap tidak bisa tidur. seringkali karena guncangan kereta kakiku dan kaki pria dingin ini bersentuhan, ini juga dipengaruhi space kaki yang sempit di kereta sehingga semua kaki jadi bersentuh- sentuhan. Hanya saja aku sebisa mungking menahan kakiku ke belakang agar kaki si pria dingin itu lebih nyaman (aku berpikir hal ini  menjadi salah satu alasan juga kenapa bapak perokok aktif ingin pindah seat, itu pastinya karna kaki mereka berdua yang sama - sama panjang sehingga menyulitkan mereka untuk membagi space, hahahhaha). Saat kaki kami bersentuhan degup jantungku seperti berlarian, cepat sekali. Aku berharap pria dingin itu ada inisiatif untuk memundurkan sedikit kakinya agar kami tidak bersentuhan lagi, tapi tidak ada tanda - tanda gerakan darinya, saat kubuka mataku ternyata Ia masih tertidur, huh jadi akulah yang menggeser kakiku. 


          Bapak perokok aktif di sebelahku cukup lama tidak kembali ke tempat, sampai akhirnya satu anggota pramuka tersisa di hadapanku bertanya " Mba, suaminya mana? tempat ini kosong?" Aku kaget setengah mati ketika kakak pramuka itu menyangka bapak perokok aktif itu suamiku. "Maaf mas maksud mas bapak yang duduk sebelah saya?" aku meyakinkan. "Iya, mba" jawab kakak pramuka itu. "Itu bukan suami saya mas, saya baru ketemu di kereta" aku menjawab dengan wajah sedikit kesal dan senyum yang dipaksakan. "Oh maaf mba, saya kira mba sama bapaknya tadi". ( Gilee lu emangnya muka gue tua banget yak). Aku cuman bisa tertawa tak lepas. Tak lama salah satu anggota pramuka perempuan datang dan duduk di sebelahku, aku sedikit senang karna aku pikir aku akan bisa bercerita dengan mba di sebelah. "Mba nanti kalo yang duduk di sini dateng saya pindah mba", ucap mba pramuka itu, aku bilang ya mba gapapa. Tapi tetap saja mba di sebelah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur. Saat itu di area kami semua orang tidur dan bapak perokok aktif tak kunjung datang. Aku pikir ia telah turun di stasiun sebelumnya, namun barang - barangnya masih ada. Entahlahh...


       Saat semuanya tertidur, aku pun mulai ikut mengantuk dan aku mulai tertidur, kali ini adalah tidur yang benar - benar pulas. Aku merasa tanpa sadar muluktu terbuka perlahan - lahan. Itu bagaikan mimpi dan nyata, waktu berlalu dan aku terbangun karena aku mendengar suara orang tertawa. Saat aku membuka mata aku melihat pria dingin yang duduk tepat di depanku sedang tertawa dan tersenyum - senyum melihatku yang tidur dengan mulut terbuka. Aku langsung terbelalak dan menunduk malu, tadi aku tidur pasti mulutku kebuka, mungkin aku ileran tadi, pikiran - pikiran negatif menyeruak ke otakku. Gagal sudah untuk terlihat cantik saat tidur. Ku putuskan untuk langsung ke toilet, memeriksa dan mengira - ngira seperti apakah wajahku saat tidur tadi. Ku lihat di cermin, kira - kira aku tidur seperti ini, mulut sedikit terbuka dan rambut berantakan, Siall.. itu jelek sekali. Setelah cukup lama merenung di toilet kuputuskan untuk kembali. Aku menyisir rambutku, mencuci wajahku, dan menyemprotkan parfum ke bajuku. Kali ini aku tidak boleh tertidur, aku akan tertawa juga nanti saat pria dingin itu tertidur dan membuka mulutnya, gumamku. 


          Setelah kembali, ku lihat pria dingin itu sedang asik bermain bersama ponselnya. Berjam - jam berlalu kami tetap tidak saling menyapa atau mengucap kata. Sebenernya aku sangat ingin memulai obrolan tetapi, aku tak berani karena pria itu sangat dingin sedingin es di kutub utara (walau aku belum pernah ke kutub utara, tapi aku tau betul disana pastilah sangat dingin). Dia hanya menghabiskan waktunya untuk tidur atau bermain ponsel. Sama sekali tak bicara dengan kami atau orang yang duduk di sebelahnya. Aku hanya membuang muka sambil sesekali melirik ke arahnya, dan itu lumayan membuat pegal leherku. Beberapa jam kemudian pria dingin itu kembali tidur, aku sebenarnya sangat mengantuk tapi aku berusaha untuk tidak tidur bahkan berkedip. Aku tidak mau kejadian memalukan yang sama terjadi lagi namun aku tidak bisa. Aku sudah tidak tahan. akhirnya kuambil buff di dalam tasku untuk menutupi bagian mulutku, dengan ini aku bisa tidur tenang heheheheh. 


        Lalu aku terbangun sebentar saat mendengar orang datang. ternyata bapak perokok aktif itu sudah kembali dari pengasingan hehehheheh, Ia ingin mengambil hak tempat duduknya yang ditempati mba pramuka yang sedang tertidur pulas. Mba itu dengan setengah sadar akhirnya bangun dan pindah tempat duduk tepat di tengah antara teman pramukanya dan pria dingin itu dan kembali tidur. Sepertinya mba itu memang setengah sadar. Sejak saat itu aku tidak bisa tidur lagi. aku hanya menatap nanar ke depan. Kuperhatikan pria itu dengan seksama matanya, hidungnya, bibirnya Ia benar - benar rupawan. dia tidak membuka mulutnya sama sekali atau ileran atau melakukan hal aneh saat tidur sehingga tidak ada alasan bagiku untuk tertawa yang ada hanya kekaguman. Aku berpikir apakah Ia sedang berpura - pura tidur saja dan mencoba melakukan tidur tampan?

  

       Jam demi jam berlalu aku tetap tidak bisa tidur. Satu - persatu penumpang mulai turun di stasiun - stasiun pemberhentian. Gerbong sedikit lebih sepi. Ini pukul 4 pagi, jika sesuai jadwal kereta akan tiba di jakarta pukul 9 pagi. Aku mencoba mengambil buku James herriot dalam tas tetapi aku tidak dapat berkonsentrasi. Kemudian aku mengambil sepotong roti yang aku beli di Surabaya. Aku berusaha tidak mengeluarkan bunyi agar tidak mengganggu yang lainnya. Aku makan sedikit dan tidak habis. Banyak hal yang aku pikirkan saat itu. Aku tidak sabar ingin bertemu kawanku dan bertanya - tanya kemana ia akan membawaku nanti di jakarta. Aku juga memikirkan keluargaku di Bali yang aku bohongi, aku memikirkan kawanku di Surabaya yang mengkhawatirkanku. Aku berpikir bahwa setelah jam 9, orang di hadapanku akan menghilang dari pandanganku dan perjalanan ini akan berakhir tanpa aku pernah tau nama dan mengingat suaranya yang hanya muncul saat Ia datang dan tertawa. Lalu aku menatap keluar jendela saat itu masih sangat gelap ditambah hujan yang cukup lebat menambah kegundahgulanaanku. 


        Pandanganku kosong dan jauh ke luar, tapi sejauh - jauhnya aku melihat karena gelap dan hujan jarak pandang jadi tidak jelas, yang terlihat hanya pantulan wajah - wajah lelah kami. Aku memperhatikan wajah pria dingin itu di jendela. Setelah itu aku membalik pandangan dan melihat pria dingin di depanku dan mba pramuka yang menyandarkan kepala di bahu pria itu. Hal itu cukup lucu, karena Ia pasti tidak sadar bahwa Ia telah bersandar di pundak pria itu dan si pria dingin itu juga tak sadar bahwa seseorang telah menyandarkan kepalanya di pundaknya. Aku kembali menatap ke luar jendela, aku berfikir bahwa setidaknya sampai pukul sembilan masih ada 4 jam untuk aku berbicara sekedar menyapa pria dingin itu. Sehingga perjalanan 11 jam ini tidak akan habis dikoyak sepi. 


       Saat aku mulai berpaling kembali menghadap ke depan, aku masih melihat mba pramuka itu bersandar di pundak si pria dingin itu, tapi si pria dingin telah terbangun dan sedang memegang ponselnya mengarah ke diriku. Aku tidak kaget karena yang dikerjakan pria dingin itu di kereta hanya bermain game di ponsel dan tidur. Tapi aku merasa sedikit kaget saat kudengar suara foto yang diambil dengan ponsel saat itu, Aku berpikir apakah pria dingin itu sedang mengambil fotoku. Sepertinya Ia menyadari kekagetanku kemudian ia menurunkan ponselnya, sepintas lewat ku lirik layar ponsel itu, ternyata itu suara dari gamenya huhh aku terlalu GR hehehehehe. Setelah itu kami berdua tidak tertidur lagi. Cahaya mulai muncul perlahan, ku pikir inilah kesempatanku untuk berbicara padanya. tapi aku bingung bagaimana caranya. Pria dingin ini sama sekali tidak berbicara dari kemarin apakah ia tidak percaya diri karena belum sikat gigi (pikirku) kemudian muncul dalam benakku untuk menawarkan permen karet mint yang kubawa, ini merupakan ide yang bagus untuk memulai pembicaraan. 


       Akhirnya kukeluarkan permen karet dari kantong celanaku, kubuka dan kutawarkan dia, awalnya aku sempat ragu dan berfikir pria dingin ini pasti menolak karena dari caranya tidak mengeluarkan suara dan kata Ia pasti tidak ingin membangun hubungan dengan orang asing, apalagi menerima pemberian dari orang asing dia pasti sangat anti. Tapi akhirnya kutawarkan juga, dan ajaibnya dia menerimanya namun tidak ada kata yang keluar setelah itu bahkan ucapan terima kasih. Aku tidak terlalu memikirkan ucapan terima kasih itu walaupun demikian aku berharap ada pembicaraan yang terjadi setelah insiden pemberian permen itu. Tapi tetap kami tidak berbicara dan suasana kembali sepi. 


        Aku menawarkan juga permen karet ke kakak pramuka yang sudah bangun dari tidur tapi mereka semua menolak. Itu tidak masalah. Aku hanya melihat ke luar jendela ingin memulai pembicaraan tapi ragu, aku melewati pematang sawah yang di sinari matahari terbit yang masih malu - malu. Itu sangat indah dan aku tidak mau melewati kesempatan untuk mengabadikannya dalam video. Jadi aku merekamnya aku melihat pria dingin itu juga melakukan hal yang sama, dia mengikuti apa yang kulakukan, cukup lama kami berdua merekam pematang sawah dari jendela. Aku mencuri - curi kesempatan untuk merekam dia juga hehehehe. Itu berhasil, aku melakukan hal itu sehingga setelah perjalanan ini aku tidak akan dengan mudah melupakan wajahnya walaupun aku tak tahu nama dan tak sempat berbicara dengannya. Tapi dengan potret rupa yang aku miliki setidaknya aku masih bisa jika harus menggambarkannya nanti dan bisa membuat cerita tentangnya seperti ini.

    Kereta akhirnya sampai di bekasi, itu bukan tujuan akhir kereta di Jakarta karena perhentian terakhir kereta adalah di Stasiun Pasar Senen. Tapi pria dingin itu sudah mulai mengambil barang - barangnya dan bersiap untuk berdiri. Ketika kereta telah sampai di Stasiun Pasar Senen namun belum benar - benar berhenti, pria itu sudah beranjak dan berjalan cepat ke arah depan dengan terburu - buru tanpa mengucapkan apa - apa. Aku hanya melihatnya berlalu dan menatap punggungnya hingga jauh dan akhirnya menghilang. Aku tertawa kecil karena aku merasa kejadian ini sangat lucu. Inilah akhir dari perjalanan 11 jam yang tidak sesuai dengan apa yang kubayangkan. Aku keluar dari kereta dan menuju pintu keluar juga dengan tergesa- gesa karena aku harus membeli tiket (mengisi saldo kartu) KRL menuju Depok. Berhubung itu adalah kali pertama aku menggunakan KRL, jadi aku sedikit terburu - buru agar tidak terjebak di kerumunan orang - orang yang juga ingin mengisi kartu KRL mereka.


         Setelah aku mendapatkan kartu aku diam sejenak untuk mengambil air dalam tasku. Saat itu dari kejauhan aku melihat sosok yang tak asing bagiku, pria tinggi dengan kemeja putih ditutupi rompi biru navy dan menggendong tas di sebelah kanan dengan wajah yang bahagia menggendong seorang anak perempuan dengan tangan kanannya dan merangkul seorang perempuan yang menahan tangis bahagia dengan tangan kirinya. Mereka bertiga terlihat bahagia dan saling melepas rindu, dan kemudian mereka berlalu. Waktu seolah - olah berjalan lambat saat itu. Aku berpaling dan berjalan pelan memasuki stasiun menunggu kereta arah Bogor. Aku melihat lalu lalang orang di keramaian tapi aku merasa sepi. Aku berpikir ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa sekaligus melelahkan.  


       Dalam kereta listrik menuju Depok beberapa kali aku menarik nafas setelah didera kelelahan yang mendalam, aku melihat potret sebuah keluarga kecil yang bahagia dalam kereta, sang ayah menjawab pertanyaan - pertanyaan ingin tahu anaknya dengan sabar dan di sebelahnya sang ibu mengembangkan senyum melihat kelakuan anak dan suaminya. Itu sungguh mengagumkan. Di sisi lain para mahasiswa terlihat tertawa lepas karena akan camping ke puncak mereka memainkan sebuah lagu dengan gitar sampai akhirnya petugas keamanan KRL menghentikan mereka. Pemandangan ini pastinya sulit dijumpai pada jam - jam berangkat dan pulang kantor yang dipenuhi wajah - wajah lelah pegawai yang memenuhi KRL. Tapi pukul 10 dalam KRL membuatku dapat memperhatikan setiap ekspresi para penumpang di dalamnya dan juga mendapat tempat duduk yang lumayan lapang. 


     Aku memeriksa ponselku ada beberapa panggilan tak terjawab dari ayahku. Aku menghubunginya kembali, hal pertama yang aku ucapkan adalah maaf karena telah membohonginya. Aku sampaikan padanya untuk tidak khawatir karena aku telah sampai di Jakarta dan sebentar lagi akan bertemu dengan kawanku. Stasiun demi stasiun terlewati dan perjalanan ini cukup menguras tenaga. Aku mencoba mengosongkan pikiranku. Aku hanya berharap dapat bertemu kawanku dan mengakhiri perjalanan ini dengan cepat. Aku cukup lelah dan ingin membaringkan tubuh dan kakiku serta mengistirahatkan pikiranku. Setelah beristirahat aku ingin ceritakan hal ini kepada kawanku, tetapi aku mengurungkan niatku, hari - demi hari berlalu sejak saat itu sampai akhirnya aku memutuskan untuk menuliskan kisah itu dalam blog ini. Sampai sekarang aku masih mengingat betul wajah pria dalam kereta itu, hanya satu yang tidak kuingat yaitu suaranya.


     Aku menceritakan hal ini, saat beberapa hari yang lalu temanku mengajakku untuk berkereta ke Yogyakarta. Sehingga aku teringat akan kisah yang belum sempat kutulis ini.  Aku pikir jikalau rencana berkereta ku benar - benar terlaksana, aku berharap ada kisah perjalanan menarik lainnya yang aku alami sehingga aku bisa bercerita seperti ini lagi.


ada nilai yang bisa kupetik dari kisah ini, yakni 

1. jangan mudah jatuh cinta pada setiap orang yang baru kau jumpai dalam sebuah perjalanan apalagi hanya karena wajahnya yang rupawan, karena kau tidak pernah tau siapa yang menunggu kepulangannya di rumah 


2. GR dan Baper merupakan hal yang wajar karena itu terjadi di luar kehendak dan kuasa kita


3. Bepergian dengan kereta kelas ekonomi jarak jauh dapat membuat seluruh badanmu pegal dan saraf menjadi kaku


4. Sebelum menggunakan kereta api mari mencari tahu tips memilih seat dan informasi lebih lanjut. Jangan lupa untuk selalu menyediakan masker sebagai penutup mulut saat tidur.


5. Menyediakan permen karet mint sangat membantu mendekatkan jarak dua orang yang jauh


6. Walaupun kau sangat pemalu atau tidak cukup berani untuk memulai pembicaraan  atau melakukan suatu tindakan setidaknya kau harus mencoba, supaya nyawamu tak tertinggal dalam kata 'Andai saja'


7. Terakhir j
angan pernah sekali - kali membohongi ayahmu heheheheh karena akibatnya kamu akan kehilangan orang yang kau kira jodohmu dalam kereta hehehehe.

 With Love,

End Triana Gayatri 


You Might Also Like

0 komentar