4 Film yang akan mengajarimu untuk tidak buru – buru men-Judge

Februari 19, 2017




    Film telah menjadi satu dari beberapa media pembelajaran di era digital. Dalam setiap film ada pesan yang ingin disampaikan dan juga ada nilai yang bisa dipelajari. Di kehidupan sosial seringakali kita melakukan judgement kepada seseorang bahkan ketika belum mengenal orang tersebut dengan baik. Ada dari judgement itu yang memang positif adapula yang negatif. Nah, untuk melatih kebiasaaan kita agar tidak melakukan judgment secara terburu – buru terhadap seseorang ada beberapa film yang wajib kita tonton, bukan hanya karena jalan ceritanya yang menarik tetapi pesan serta nilai – nilai yang tersirat dalam film tersebut juga dapat menjadi pembelajaran bagi kita untuk tidak buru-buru men- judge atau menilai/menghakimi seseorang terutama dengan penilaian yang negatif. Berikut adalah 4 (empat) film yang mengajarimu untuk tidak buru – buru men-Judge
 

1.     Atonement (2007)



     Film yang disutradai oleh Joe Wright berdasarkan novel best-seller milik Ian McEwan dan dibintangi oleh James McAvoy dan Keira Knightley ini bercerita mengenai akibat yang harus ditanggung seseorang karena kesalahan informasi yang diberikan orang lain bahkan ketika orang tersebut tidak tahu dengan baik apa yang sebenarnya terjadi. Itulah yang dialami oleh Robbie Turner ( James McAvoy) yang harus merasakan derita kehidupan di penjara selama 4 tahun atas tuduhan pemerkosaan yang tidak Ia lakukan dan membuatnya harus terpisah dengan gadis yang Ia cintai Cecilia ( Keira Knightley). Tuduhan tersebut datang dari adik Cecilia yaitu Briony Tallis ( Saoirse Ronan). Pemikiran Briony datang dari beberapa kesalahpahaman yang terjadi seperti saat Briony melihat sang kakak keluar dari kolam dengan basah kuyup dan Robbie yang memang bekerja di keluarga Cecilia berada tepat di depannya membuat Briony mengira bahwa Robbie-lah yang menyuruh kakanya seperti itu untuk melihat lekuk tubuh sang kakak, hingga Briony menganggap bahwa Robbie adalah “pria mesum”, padahal saat itu Cecilia masuk ke kolam untuk menyelamatkan sebuah vas bunga. Selanjutnya Briony tanpa sengaja menerima surat dari Robbie yang sebenarnya ditujukan untuk Cecilia, namun Robbie salah memberikannya dan malah mengirimkan surat yang berisi kata – kata vulgar yang sebenarnya ia tulis untuk iseng – isengan saja. Hal ini semakin membuat Briony mencap Robbie sebagai  “pria mesum” . Hingga pada saat salah satu temanya menjadi korban perkosaan di tengah semak yang gelap, Ia menjadi yakin bahwa Robbie adalah pelakunya dan memberikan keterangan yang tidak benar – benar Ia ketahui ini ke polisi. 

2.     Les Miserable (2012)



 
        Film musikal yang diadaptasi dari nover berjudul sama karya Victor Hugo ini nampaknya sangat sesuai dengan quote milik Oscar Wilde yakni “Every saint has a past, and every sinner has a future”. Berkisah tentang Jean Valjean (Hugh Jackman) seorang bekas tahanan yang dihukum karena mencuri sepotong roti untuk putri saudarinya yang akhirnya memperoleh kebebasan bersyarat namun kemudian lebih memilih untuk hidup dan lahir menjadi orang baru. Berkat kebaikan hati seorang pastur yang menganggapnya sebagai manusia walau Ia telah mencuri perkakas – perkakas di gereja berhasil merubah cara pikir dan sifatnya menjadi orang yang lebih baik. Ia merawat Cossete putri dari pekerja pabriknya hingga besar dan menyelamatkan nyawa Mauris saat terjadi upaya revolusi yang dilakukan kelompok pemuda. Ia bahkan menyelamatkan nyawa inspektur polisi bernama Javert (Rossel Crowe) yang selama ini selalu mencari – carinya untuk dihukum kembali. Walaupun pernah menjadi narapidana dihukum sebagai budak selama 19 tahun untuk kesalahan yang kecil, tetapi Jean Valjean tidak pernah menaruh dendam bahkan Ia selalu membuat kebaikan setelah pembebasanya. Maka itu kita sebaiknya tidak buru – buru menghakimi orang yang dulunya mungkin memiliki masa lalu yang buruk karena seperti kisah dalam film ini dan sesuai dengan apa yang disampaiakan Oscar Wilde bahwa setiap orang suci memiliki masa lalu dan setiap pendosa memiliki masa depan. 

3.     Miracle in Cell no.7 (2013)




      Film asal Korea Selatan yang sukses mengaduk – aduk emosi ini bercerita mengenai hukum dan kebahagian yang terjadi dalam sel penjara. Berkisah mengenai seorang ayah dengan keterbelakangan mental yang harus mendekam dipenjara karena tuduhan melakukan pelecehan seksual hingga pembunuhan terhadap anak seorang jenderal polisi. Padahal apa yang dilakukan oleh ayah ini semata – mata hanya untuk menyelamatkan putri sang jenderal yang terjatuh karena licinnya jalan ber-es dan tertimpa balok kayu.  Selama di penjara teman – teman satu selnya membantu Ayah ini untuk bertemu dengan putrinya, mereka berhasil menyelundupkan si Anak ke dalam sel sehingga Ayah dan anak ini dapat saling melepas rindu. Film ini banyak menggunakan prinsip – prinsip hukum, namun menjadi menyedihkan karena terjadinya proses hukum yang  tidak tepat sasaran.

      Dibantu dengan seorang polisi yang mengetahui kebenaran kejadian setelah mengenal tersangka lebih dalam akhirnya mereka mencoba membebaskan Si Ayah dalam persidangan, namun karena adanya ancaman dari pihak jenderal polisi, maka Si Ayah terpaksa mengaku dialah yang memperkosa dan membunuh putri sang jenderal yang membuatknya harus dihukum mati. Hal ini dilakuakannya untuk melindungi sang putri dari ancaman kematian. Ketika tumbuh dewasa sang putri menjadi jaksa dan berusaha mengumpulkan semua sahabat ayahnya dulu ketika di dalam penjara untuk membantunya membersihkan nama baik sang ayah. Film ini menunjukkan seseorang bisa saja dihakimi karena berada pada waktu dan tempat yang salah, seperti apa yang terjadi pada si Ayah yang berniat menolong putri sang jenderal dengan melakukan prinsip – prinsip pertolongan pertama tetapi orang yang menjadi saksi saat itu menganggap ia telah melakukan pelecehan seksual dan berakhir dengan hukuman mati yang harus diterimanya.

4.     The Danish Girl ( 2015)






        Film yang dibintangi oleh Eddie Redmayne sebagai Einar Wegener dan Lili Elbe serta Alicia Vikander sebagai Gerda Wegener, menceritakan kisah sepasang suami istri yang berprofesi sebagai pelukis yang saling mencintai satu sama lain dan awalnya menjalani hidup normal layaknya pasangan suami istri lain. Sampai akhirnya ketika Gerda meminta sang suami menjadi model lukisannya dan mengharuskan dia menjadi seorang wanita dan menggunakan stoking serta memegang pakaian wanita untuk membantu sang istri menyelesaikan lukisannya dikarenakan sang model sesungguhnya tidak bisa datang saat itu. Awalnya Einar menolak namun karena pinta sang istri Ia akhirnya menerima, namun saat Ia melakukannya, Einar merasakan hal lain. Ia merasa bahwa Ia terlahir kembali dan menemukan dirinya. Saat mengunjungi pesta Gerda memiliki sebuah ide yang sebenarnya dilakukan hanya untuk iseng saja, Ia menyuruh Einar untuk datang sebagai Lili Elbe lengkap dengan gaun dan make up. Hal itu dilakukan karena Gerda tau Einar tidak menyukai datang ke tempat – tempat seperti itu. 

Di pesta seorang pria tertarik kepada Lili dan Gerda melihat suaminya berciuman dengan pria itu. Sejak saat itu Gerda menyadari sesuatu yang tidak benar telah terjadi. Ketika Einar semakin yakin bahwa Lili adalah sisi lain dalam dirinya dan merasa bahwa ia lebih condong ke sisi Lili, Gerda meminta Einar untuk menghentikan semua ini dan kembali karena Ia merindukan suaminya. Namun hal itu tidak berhasil karena Einar lebih memilih untuk terlahir kembali menjadi Lili, hebatnya adalah Gerda akhirnya bisa menerima keputusan itu walaupun sangat berat karena Ia memahami bagaimana tersiksanya Einar ketika ia menemukan bahwa ada orang lain dalam dirinya. Gerda menemani Lili saat menjalani operasi transgender hingga akhir hayat Lili. 

Kisah ini merupakan kisah nyata Lili Elbe yang merupakan orang yang menjalani operasi transgender pertama di dunia. Apa yang dapat dipelajari dari film ini adalah, jika kita tidak bisa melihat penderitaan dalam sudut pandang sesorang tentu kita tidak bisa melakukan penghakiman. Gerda Ia memahami betul bahwa suaminya memiliki sisi feminin dan memilih untuk menjadi feminin, Ia tahu betapa tersiksanya sang suami dengan keadaan tersebut hingga akhirnya ikhlas merelakan suami yang ia cintai untuk lahir kembali sebagai Lili Elbe dan juga film ini mengajari kita untuk tidak terburu – buru mengadili kaum yang berbeda dengan kita salah satunya adalah transgender, karena kita tidak pernah tau bagaimana Ia menanggung kesulitan untuk pilihan hidupnya. Mereka-pun tidak mau hal itu terjadi pada mereka. 

Tentunya masih ada banyak film yang dapat mengajarkan kita untuk tidak melakukan judgement atau penilaian/ penghakiman terlalu dini kepada seseorang terutama untuk penilaian negatif. Keempat film di atas hanya beberapa diantaranya dan merupakan versi saya. Pastinya kawan – kawan semua mempunyai film versi kalian sendiri.


-With Love-
End Triana Gayatri



PS : 
- Artikel ini sudah pernah saya post di Blog Mahasiswa Universitas Udayana https://student.unud.ac.id 
-     Sumber gambar diambil dari http://google.com/
 


















 






 



You Might Also Like

0 komentar